Ketika dua saham bergerak hampir selalu seiring, banyak trader bertanya: apa jadinya jika salah satunya melenceng terlalu jauh? Pairs trading lahir dari pertanyaan itu. Strategi ini tidak menebak arah pasar, melainkan memanfaatkan hubungan antara dua saham yang berkorelasi tinggi: membeli saham yang tertinggal dan menjual saham yang terlalu maju, lalu menutup posisi saat keduanya kembali sejalan. Artikel ini membahas cara kerja pairs trading, cara memilih pasangan saham di bursa Indonesia, dan bagaimana menerapkannya dengan fitur INDOSTOCK.AI.
Apa itu pairs trading?
Pairs trading adalah strategi market-neutral yang termasuk keluarga mean reversion. Alih-alih bertaruh harga akan naik atau turun, trader bertaruh bahwa selisih harga (spread) antara dua saham yang berhubungan akan kembali ke nilai rata-ratanya. Posisi dibuka dengan dua kaki sekaligus: long di saham yang relatif murah dan short di saham yang relatif mahal. Karena kedua posisi saling meniadakan paparan arah pasar, keuntungan tidak bergantung pada IHSG naik atau turun — itulah mengapa strategi ini disebut netral pasar.
- Long dan short dibuka bersamaan dengan rasio yang disesuaikan agar paparan pasar saling meniadakan.
- Profit diambil saat spread menyempit kembali ke rata-rata historisnya.
- Cocok untuk pasar sideways maupun trending, tetapi tetap butuh disiplin eksekusi dan manajemen risiko.
Mengapa korelasi antar saham penting
Korelasi vs kointegrasi
Korelasi mengukur seberapa searah dua saham bergerak dalam periode tertentu, biasanya dihitung dari data harga harian. Dua emiten di sektor yang sama — misalnya perbankan atau batu bara — cenderung berkorelasi tinggi karena menghadapi kondisi ekonomi, suku bunga, dan harga komoditas yang serupa. Namun korelasi saja tidak cukup. Trader pairs trading juga memperhatikan kointegrasi, yaitu kecenderungan selisih harga kedua saham untuk kembali ke rata-ratanya dalam jangka panjang. Pasangan yang ideal adalah yang berkorelasi tinggi sekaligus kointegrasi, sehingga spread-nya bisa diprediksi untuk kembali.
Pasangan berkorelasi tinggi tetapi tidak kointegrasi bisa membuat spread menjauh permanen — kondisi inilah penyebab utama kerugian dalam pairs trading. Karena itu, sebelum membuka posisi, pelajari dulu perilaku selisih harga kedua saham selama minimal beberapa bulan untuk memastikan spread-nya memang suka kembali ke rata-rata.
Cara kerja pairs trading langkah demi langkah
- Pilih dua saham yang historisnya bergerak seiring, idealnya di sektor yang sama dan sama-sama likuid.
- Hitung spread, yaitu selisih harga kedua saham yang sudah dinormalisasi agar bisa dibandingkan antar periode.
- Standarkan spread menjadi z-score untuk mengukur seberapa jauh spread dari rata-ratanya.
- Masuk saat z-score ekstrem: long saham yang relatif murah dan short saham yang relatif mahal.
- Tutup posisi saat spread kembali ke rata-rata (z-score mendekati nol) atau saat stop loss tersentuh.
Contoh pairs trading di bursa Indonesia
Pasangan klasik di IDX adalah BBCA dan BBRI: dua bank besar yang umumnya bergerak seiring karena sama-sama dipengaruhi suku bunga dan kondisi kredit. Jika BBCA melonjak jauh sementara BBRI tertinggal tanpa alasan fundamental yang jelas, pairs trader bisa membeli BBRI dan menjual (atau mensimulasikan jual) BBCA, dengan harapan selisihnya kembali normal. Contoh lain adalah ADRO dan PTBA di sektor batu bara, yang pergerakannya mengikuti harga komoditas secara bersamaan. Kuncinya: pastikan penyimpangan spread terjadi karena pergerakan harga, bukan karena perubahan fundamental salah satu emiten.
Risiko dan keterbatasan pairs trading di IDX
Pairs trading bukan strategi tanpa risiko. Risiko terbesar adalah correlation breakdown: hubungan historis antar saham bisa berubah karena aksi korporasi, pergantian manajemen, atau regulasi baru, sehingga spread tidak kembali ke rata-rata dan posisi merugi di dua kaki sekaligus. Di Indonesia ada keterbatasan tambahan: short selling di pasar reguler BEI hanya bisa dilakukan lewat mekanisme tertentu untuk saham-saham tertentu, sehingga kaki short tidak selalu bisa dieksekusi langsung.
- Korelasi bisa berubah struktural — pantau berita dan fundamental kedua emiten secara berkala.
- Biaya transaksi dua kaki lebih besar; pastikan spread yang diperebutkan cukup lebar untuk menutup biaya.
- Likuiditas harus memadai di kedua saham agar eksekusi tidak menimbulkan selisih harga yang besar.
Manajemen risiko pairs trading
Aturan risiko pairs trading lebih sederhana karena arah pasar tidak terlalu berpengaruh, tetapi tetap wajib disiplin. Tetapkan stop loss berdasarkan volatilitas, misalnya kelipatan ATR, agar posisi tidak tertutup oleh fluktuasi normal. Batasi risiko per trade di kisaran 1–2% dari modal, lalu hitung ukuran posisi dari jarak stop loss. Hindari memasang risiko terlalu besar hanya karena strategi ini terlihat aman — ketika korelasi benar-benar rusak, kerugian bisa datang dari dua arah sekaligus.
Mulai berlatih pairs trading dengan INDOSTOCK.AI
Anda bisa mempelajari pairs trading tanpa mempertaruhkan uang asli. Gunakan Screener Saham IDX untuk menemukan emiten di sektor yang sama, lalu bandingkan pergerakan harganya di Grafik & Indikator Teknikal untuk menilai korelasi dan perilaku spread. Setelah menemukan kandidat pasangan, latih eksekusi long-short di Simulasi Paper Trading yang mencatat snapshot indikator saat entry dan exit — hasilnya otomatis masuk Trading Journal sehingga Anda bisa mengevaluasi apakah strategi ini cocok dengan gaya trading Anda.
Pairs trading mengajarkan satu hal penting: keuntungan tidak selalu harus berasal dari menebak arah pasar. Dengan memanfaatkan korelasi antar saham, spread yang melebar bisa menjadi peluang, bukan ancaman. Namun strategi ini tetap butuh pemilihan pasangan yang cermat, eksekusi yang disiplin, dan manajemen risiko yang ketat. Mulailah dari simulasi, pelajari perilaku pasangan saham favorit Anda, lalu terapkan secara bertahap ketika sudah benar-benar paham.